Pages


Tampilkan postingan dengan label Green Fuel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Green Fuel. Tampilkan semua postingan

Perbedaan Pemanfaatan Tebu dan Sorgum dalam Industri

TEBU DAN SORGUM MANIS
Sukrosa gula atau gula meja sukrosa yang biasa kita kenal berasal dari hasil ekstraksi tanaman. Dua tanaman gula yang paling penting adalah tebu (Saccharum spp.) dan bit (Beta vulgaris), dengan kadar gula bisa mencapai 12% – 20% dari berat kering tanaman. Beberapa tanaman gula komersial lainnya termasuk kurma (Phoenix dactylifera), sorgum (Sorghum vulgare), dan mapel (Acer saccharum). Tebu & sorgum manis merupakan dua komoditas yang termasuk penting dalam industri gula sehingga dalam kesempatan ini dibahas mengenai perbedaan pemanfaatan antara tebu dan sorgum manis dalam industri.
1. Tebu
TebuTebu (Saccharum) merupakan genus yang terdiri dari 6-37 spesies (tergantung dari pengertian taksonominya) dari rerumputan tinggi (famili Poaceae), berasal dari kawasan bersuhu hangat hingga tropis di Dunia Tua (sebagian Eropa, Asia dan Afrika) dan Pasifik. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 7-8 bulan. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Contohnya di daerah Malang. Luas lahan tebu di Kabupaten Malang lebih dari 40 hektar dengan hasil panen (produksi) sekitar 1 juta ton per tahun.
Tanaman ini memiliki batang berserat yang kuat dan beruas dengan ketinggian 2-6 m dan mengandung cairan yang kaya dengan gula. Seluruh spesies saling berkawinan, dan varietas komersial yang paling banyak ditemui adalah jenis hibrida kompleks terutama dari varietas Saccharum officinarum,S. spontaneum, S. barberi dan S. sinense.
Budidaya tanaman tebu membutuhkan iklim tropis atau subtropis dengan curah hujan paling sedikit 600 mm per tahun. Temperatur optimum untuk perkecambahan tebu adalah 26-33°C dan 30-33°C untuk pertumbuhan vegetatif. Tanaman ini memiliki kemampuan fotosintesis yang paling efisien dibandingkan dengan seluruh jenis tanaman lainnya, dan dimana dapat mengubah sebanyak 2% energi matahari menjadi biomassa.
Jumlah tebu diperbanyak dan dibiakkan dari pemotongan batang-batangnya dan bukan dari benih. Setiap potong paling tidak musti harus mengandung satu ruas bakal-tanaman (bud), dan potongan-potongan tersebut biasanya ditanam secara manual dengan tangan. Dalam sekali tanam, satu batang tebu dapat dipanen hingga beberapa kali; setelah tiap kali pemanenan, anakan tebu akan tumbuh menjadi batang-batang baru dinamakan ratoons. Hasil yang didapat pada pemanenan berikutnya biasanya lebih rendah, oleh karena itu dilakukan penanaman kembali. Pada tiap penanaman, panen dapat dilakukan 2 hingga 10 kali tergantung pada praktik pertanian yang dilakukan. Rata-rata tebu yang dihasilkan adalah 100 ton tebu per hektar atau 10 ton gula per hektar.
2. Sorgum
Sorgum merupakan genus yang terdiri dari 20 spesies rumput-rumputan, berasal dari kawasan tropis hingga subtropis di Afrika Timur, dengan satu spesies di antaranya berasal dari Meksiko. Tanaman ini dibudidayakan di Eropa Selatan, Amerika Tengah dan Asia Selatan. Sorgum mempunyai masa panen selama 3-4 bulan. Gula dapat diekstrak dari biji-bijinya, namun ekstraksi ini hanya dilakukan secara lokal dalam skala kecil.
Biji sorgum yang mengandung karbohidrat cukup tinggi sering digunakan sebagai bahan baku berbagai industri seperti industri bir, pati, gula cair (sirup), jaggery (sejenis gula merah), etanol, lem, cat, kertas, degradable plastics dan lain-lain. Batangnya juga mengandung kadar gula cukup tinggi dan digunakan untuk pakan ternak ruminansia, gula cair (sirup), jaggery dan bioetanol.

Sorgum
Sorgum merupakan salah satu tumbuhan yang dibudidayakan khusus sebagai sumber karbon dan energi untuk menghasilkan produk-produk berbasis biomassa selain pangan dan pakan. Sehingga lebih banyak digunakan untuk memproduksi bioetanol. Pada dasarnya, bioetanol adalah etanol yang terbuat dari sumber daya hayati. Indonesia sangat kaya dengan bahan mentah bioetanol, sorgum manis salah satunya. Dengan hasil panen sebesar 80 ton/ha/tahun, sorgum manis dapat diproduksi menjadi etanol sebanyak 6000 liter/ha/tahun.
Untuk sekali siklus panen, produksi bioetanol sorgum di Amerika Serikat mencapai 10.000 liter/ha/tahun, di India 3.000 – 4.000 liter/ha/tahun, dan di Cina mencapai 7000 liter/ha/tahun. Di Cina sorgum banyak dibudidayakan dan dikembangkan dalam kaitan pemingkatan produktivitas lahan-lahan marjinal yang sering terkena wabah kekeringan dan salinitas tinggi. Di India bioetanol sorgum digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu penerangan (pressurized ethanol lantern) disebut “Noorie” yang menghasilkan 1.250-1.300 lumens (setara bola lampu 100 W), kompor pemasak (pressurized ethanol stove) yang menghasilkan kapasitas panas 3 kW. Selain itu, pemerintah India telah mengeluarkan kebijakan mencampur bioetanol sorgum dengan bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor.

Dari pemaparan tebu dan sorgum di atas , terdapat perbedaan pemanfaatan antara keduanya dalam industri.
1. Sorgum tidak dapat diproduksi menjadi gula kristal (padat). Hal ini dikarenakan kandungan amilum pada tebu terlalu tinggi sehingga sulit dikristalisasi. Dampak dari kondisi ini yaitu sorgum manis lebih banyak diproduksi menjadi gula cair. Sedangkan tanaman tebu memiliki kadar amilum yang sesuai sehingga gulanya dapat dikristalisasi. Oleh karena itu tebu digunakan sebagai komoditas utama industri gula pasir.
2. Tanaman sorgum lebih baik dalam memproduksi bioetanol karena memiliki produksi biji dan biomassa yang jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu.
3. Masa panen sorgum lebih cepat yaitu hanya 3-4 bulan dibandingkan dengan tebu yang dipanen pada umur 7 bulan. Selain itu sorgum dapat diratun sehingga untuk sekali tanam dapat dipanen beberapa kali.
4. Adaptasi sorgum jauh lebih luas dibanding tebu sehingga sorgum dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, baik lahan subur maupun lahan marjinal.
5. Tanaman sorgum memilki sifat lebih tahan terhadap kekeringan, salinitas tinggi dan genangan air (water lodging) dibandingkan dengan tebu
6. Kebutuhan air untuk tanaman sorgum hanya sepertiga dari tanaman tebu.
7. Sorgum memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah daripada tanaman tebu.
8. Menanam sorgum lebih mudah, kebutuhan benih hanya 4,5–5 kg/ha dibanding tebu yang memerlukan 4.500–6.000 kg stek batang.
9. Secara tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu (sugarcane). Hara molases tebu relatif lebih murah

SUMBER :
http://www.food-info.net/id/products/sugar/sources.htm
http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/sorgum/sorgum_etanol.html
http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/sorgum/sorgum.html
http://www.gatra.com/2009-07-02/artikel.php?id=127752
 http://agribisnis.deptan.go.id/index.php?mod=detail_informasi?=1&kat=&fuse=663

ECO-TECHNOLOGY :


PENDAHULUAN

Pemanasan Global
            Setiap bagian dari belahan bumi ini mengalami masalahnya masing-masing seperti halnya kekurangan pangan, kekurangan air bersih, penurunan kesehatan & kekurangan gizi,  kelangkaan energi, punahnya biodiversitas, perubahan iklim yang tidak teratur, dan lainnya. Penyebab dari seluruh masalah tersebut adalah adanya pemanasan global yang sampai saat ini belum ada cara untuk mengatasinya. Berbagai negara maju telah berulang kali melakukan kesepakatan untuk mereduksi pemanasan global, bahkan, dalam bulan Desember 2009, akan ada pertemuan 190 negara di Copenhagen untuk membahas lagi tentang pemanasan global (sudah kesekian kalinya setelah Kyoto Protocol yang lalu). Dalam kenyataannya pemanasan global terus terjadi, di mana temperatur atmosfir meningkat setiap tahun (telah mencapai 4°C di atas temperatur pra-industri) karena emisi greenhouse gases (GHG), terutama CO2 ke udara terus menerus terjadi. Penyebab pemanasan global utamanya adalah CO2 padahal CO2 dikenal sebagai gas yang bersih, dan CO2 sebagian besar dihasilkan oleh berbagai kegiatan industri.
            Salah satu tindakan afirmatif yang disepakati oleh para pemimpin negara maju adalah pengurangan emisi CO2, padahal sumber utama emisi CO2 adalah kegiatan industri. Hal ini yang menimbulkan dilema antara pengurangan CO2, dan peningkatan kegiatan industri untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang terus menerus meningkat. Di satu sisi, kita tidak mungkin membiarkan pemanasan global terus terjadi, di sisi lain, tidak mungkin kita menerapkan kebijakan zero-discharge. Data dari The International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa 65% dari emisi GHG di seluruh dunia berasal dari kegiatan industri terkait dengan penggunaan energi. Data lain juga menunjukkan bahwa pada tahun 2009 terdapat penurunan emisi CO2 sebesar 3% (penurunan terbesar dalam 40 tahun terakhir) akibat resesi ekonomi global. Kecenderungan yang ada pada saat ini adalah bahwa negara maju akan menuntut supaya negara berkembang mengurangi aktivitas penggunaan energi dan mengurangi aktivitas industrinya. Hal ini akan menimbulkan ketidak adilan karena negara berkembang sangat perlu untuk memacu kegiatan industrinya dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakatnya, serta untuk mengurangi disparitas ekonomi antara negara.   

PEMBAHASAN

Prinsip Eco-technology
            Solusi untuk masalah ini adalah eco-technology, teknologi yang berbasis kepada kapasitas diri dalam merancang suatu eco-system, mengandalkan kepada pendekatan sistemik dalam melakukan konservasi energi yang tak terbarukan. Eco-technology mencoba menyeimbangkan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan alam, eco-technology akan memberikan solusi yang berkelanjutan dengan mengandalkan kepada energi natural non fosil. Eco-technology memberikan jalan keluar terhadap shell game yang selalu dihadapi pada saat pengembangan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi pencemaran. Selama ini penyelesaian terhadap suatu masalah pencemaran lingkungan selalu menimbulkan permasalahan pencemaran yang baru. Ternyata green movement yang selama ini digalakkan justru berdampak kepada pemanasan global.

Tantangan Global dan Indonesia
            Dunia dihadapkan pada 2 pilihan dalam menghadapi terjadinya pemanasan global yaitu 1) berupaya maksimal untuk mengurangi emisi GHG atau 2) berusaha hidup dengan beradaptasi dengan bumi yang lebih panas. Sebenarnya terdapat pilihan ketiga yang efektif dan terjangkau oleh kemampuan teknologi saat ini, namun pemanfaatannya masih sangat rendah, yaitu pemanfaatan geo-engineering.
            Bumi mengalami pemanasan karena adanya radiasi sinar matahari ke atmosfir dan karena adanya GHG yang terperangkap di atmosfir. Untuk mengurangi pemanasan bumi tersebut perlu dilakukan upaya untuk mengurangi radiasi sinar matahari dan mengurangi emisi GHG. Geo-engineering menjanjikan cara yang efektif dan ekonomis untuk mengatasi pemanasan bumi, misalkan dengan menyuntikkan sejumlah partikel belerang ultra halus ke lapisan atas atmosfir akan mampu memantulkan 2% radiasi sinar matahari. Penyemprotan air laut ke udara akan meningkatkan kepadatan awan laut di ketinggian rendah sehingga mampu mengurangi radiasi sinar matahari.
            Indonesia mempunyai potensi untuk mengembangkan energi alternatif yang sekaligus mendukung lingkungan yang bersih serta mencegah pemanasan global, antara lain: tenaga air, tenaga angin, geotermal, biofuel turunan kedua (dari limbah pertanian, limbah kayu, dan limbah lainnya), etanol biomasa, sistem kogenerasi fuel-cell untuk rumah tangga, dan sistem serupa lainnya (masih terus diteliti). Untuk geotermal, etanol biomasa, dan biofuel turunan kedua, diperlukan rancang bangun sistem rangkaian tertutup untuk mencegah emisi GHG ke atmosfir. Biofuel turunan pertama (langsung dari hasil hutan atau perkebunan) justru harus dicegah karena akan menyebabkan emisi GHG yang lebih besar sebagai akibat dari penggundulan hutan dan perkebunan. Etanol biomasa dapat diproduksi oleh minimal 120 negara di dunia sedangkan energi fosil hanya dihasilkan oleh 15 negara penghasil minyak saja. Dengan demikian ketergantungan energi dapat diminimalkan dan setiap negara akan mampu melakukan swasembada energi.

Perkembangan Tenaga Angin
            Pemanfaatan tenaga angin lepas pantai (offshore wind farm) mulai dikembangkan untuk mengantisipasi kebutuhan energi yang terus menerus meningkat serta keterbatasan luasan dan kontur daratan yang ada. Kontribusi energi angin pada saat ini di USA adalah sebesar 1% dari kebutuhan listrik nasionalnya, diperkirakan pada tahun 2030 kontribusi tersebut akan mencapai 20% dan 20% di antaranya akan berasal dari offshore wind farm. Rencana pengembangan tenaga angin lepas pantai tersebut akan mencapai 350 MW di USA dan 1100 MW di Uni Eropa, dengan biaya investasi sebesar $ 3 juta per megawatt. Biaya ini ternyata masih lebih murah dibandingkan dengan biaya investasi solar panel ($ 6 juta per megawatt) dan solar thermal mirror ($ 7 juta per megawatt).
            Pemanasan global ternyata juga memengaruhi potensi tenaga angin, kecepatan angin global rata-rata telah menurun sejak tahun 1973, bahkan, penurunan tersebut telah mencapai 10%. Penurunan kecepatan angin sebesar 10% akan berakibat kepada penurunan energi yang dihasilkan sebesar 30%. Penurunan tersebut terjadi karena berkurangnya lapisan es di danau-danau, padahal angin bertiup lebih cepat di permukaan es daripada di permukaan air. Karena pemanasan global saat ini, kutub akan lebih cepat panas daripada belahan bumi lainnya. Artinya, perbedaan temperatur antara kutub dengan katulistiwa akan berkurang, akibatnya, perbedaan tekanan udara juga berkurang, sehingga pada akhirnya kecepatan angin akan melemah.
            Kendala operasional wind farm adalah angin tidak bertiup secara kontinyu sedangkan kebutuhan energi bersifat kontinyu sesuai dengan tingkat pemakaian. Untuk itu diperlukan suatu penyimpan energi berskala sangat besar, dan salah satu kemungkinannya adalah waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) meskipun terjadi juga pengurangan cadangan energi secara total. Pada lokasi tanpa adanya waduk PLTA, dukungan untuk menjamin kontinuitas skala besar pasokan energi listrik hanya dapat diperoleh melalui bahan bakar fosil. Kendala lain adalah transmisi listrik ke lokasi pemakaian yang pada umumnya sangat jauh jaraknya, terutama untuk tenaga angin lepas pantai. Secara umum tenaga angin akan dapat memberikan sekitar 30% dari kebutuhan energi global, artinya penggunaan energi angin akan menurunkan 30% emisi GHG jika dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil sepenuhnya.

Perkembangan Tenaga Matahari
            Sinar matahari adalah salah satu favorit para peduli lingkungan, kecenderungan untuk memaksimalkan penggunaan tenaga matahari terus meningkat di berbagai belahan bumi. Kendala operasional pemanfaatan tenaga matahari adalah fluktuasi intensitas sinar matahari yang tajam. Untuk mengatasai hal ini, salah satu di antaranya adalah penggunaan satelit tenaga matahari. Solar cell ditempatkan di ruang angkasa dengan orbit tinggi sehingga terkena sinar matahari sepanjang masa. Tenaga matahari kemudian dikonversi menjadi listrik yang kemudian dipancarkan sebagai gelombang mikro ke stasiun bumi. Satu satelit diperkirakan mampu menyediakan 10 GW listrik di bumi secara terus menerus. Teknologi pembuatan satelit tenaga matahari telah dikuasai seperti halnya pembuatan stasiun ruang angkasa internasional. Pancaran gelombang mikro ke stasiun bumi tidak akan membahayakan manusia karena listrik tersebut dipancarkan secara terdistribusi melebar sehingga intensitasnya sangat rendah.
            Kendala lain dalam pemanfaatan tenaga matahari adalah pengadaan solar panel. Satu panel berukuran 1 x 1,5m² dengan kapasitas 1 KW/hari membutuhkan 40 kg batubara untuk proses pembuatannya, padahal 40 kg batubara mampu langsung menghasilkan energi sebesar 130 KWh. Proses pembuatan panel dimulai dari penambangan batuan silica yang kemudian diproses menjadi berturut-turut: silica metallic, trichlorosilane, polycrystalline silicon, solar cell, dan panel. Salah satu bahan kimia yang berbahaya adalah chlorine yang digunakan pada setiap urutan proses pembuatan panel tersebut, sedangkan untuk pemurnian silica diperlukan proses pemanasan yang lama pada temperatur tinggi. Pencemaran yang terjadi pada saat pembuatan panel adalah karena pembakaran batubara yang menimbulkan emisi GHG, polusi kimia, dan limbah silica yang tidak dapat didaur ulang. Pada tahun 2008, Cina telah membakar 30 juta ton batubara untuk memproduksi panel yang dibutuhkan oleh USA dan Uni Eropa, artinya telah terjadi pemanasan global oleh Cina dalam rangka pengurangan emisi GHG oleh USA dan Uni Eropa. Tampaknya konsep shell game akan selalu terjadi pada saat dunia melakukan upaya pengurangan pemanasan global.    

Pilihan yang Menjanjikan
            Tenaga geotermal menjanjikan prospek yang cerah, konsentrasi CO2 yang dihasilkan adalah 15 g/kwh, jauh lebih kecil daripada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang menghasilkan 742 g/kwh konsentrasi CO2. Biaya produksi instalasi geotermal adalah separuh biaya produksi PLTD, biaya investasi instalasi geotermal memang tinggi akan tetapi selanjutnya bebas biaya perawatan. Indonesia adalah negara penghasil tenaga geotermal terbesar ketiga di dunia setelah USA dan Filipina. Tingkat pemanfaatan tenaga geotermal di Indonesia pada saat ini baru mencapai 5% dari kebutuhan energi listrik, dan di Filipina baru mencapai 23% dari kebutuhan listrik nasionalnya. Kontinuitas produksi energi geotermal terjamin, tidak fluktuatif seperti halnya tenaga angin dan tenaga matahari, karena sumber geotermal akan beroperasi terus menerus. Pada saat ini, telah ditemukan teknologi yang memungkinkan pembangkitan listrik oleh tenaga geotermal pada temperatur yang lebih rendah sehingga tidak memperburuk pemanasan global.
            Upaya untuk mendinginkan bumi dapat dilakukan melalui geo-engineering seperti telah diuraikan di atas, yang berdasarkan hasil kajian National Academy of Science, NASA, dan US Department of Energy dinyatakan layak, ekonomis, dan ampuh. Namun demikian, dalam penerapannya, terkendala oleh pendapat para ilmuwan bahwa geo-engineering akan menyebabkan hilangnya lapisan ozone-stratospheric akibat adanya partikel belerang, dan bahwa akan terjadi gangguan iklim regional seperti halnya asian-monsoon. Pendapat para ilmuwan tersebut masih harus dibuktikan lebih dahulu melalui berbagai kegiatan penelitian yang intensif dan dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu pemanfaatan geo-engineering merupakan pelengkap program jangka panjang untuk mencapai kondisi bebas emisi GHG. Paling tidak, geo-engineering akan menstabilkan iklim sehingga tidak menjadi lebih buruk.

Komplikasi Pemanasan Global
            Pemanasan global lebih berdampak sangat buruk bagi negara miskin dibandingkan dengan negara maju. Penduduk miskin cenderung tinggal di daerah yang rawan bencana seperti di sekitar pantai maupun di daerah yang sangat kering. Mereka akan menjadi makin miskin dan kesehatannya makin buruk, mereka terpaksa harus melakukan migrasi besar besaran demi bertahan hidup. Berdasarkan data dari IPCC, suatu badan PBB, permukaan air laut rata-rata akan naik dari 18cm menjadi 59cm dalam satu abad mendatang. Indonesia akan kehilangan 2000 pulau kecil pada tahun 2030.
            Perolehan energi terbarukan melalui biofuel dan bio-ethanol juga menuai komplikasi baru karena terjadi kompetisi antara penyediaan pangan dengan penyediaan energi non fosil. Pada saat dunia sedang mengalami krisis pangan, kebijakan penyediaan biofuel dan bio-ethanol dari bahan baku pangan akan dikalahkan. Data dari FAO menunjukkan bahwa kelangkaan pangan masih tinggi dan harga masih tinggi sedangkan penduduk miskin bertambah terus.
            Perkembangan energi alternatif non fosil menunjukkan bahwa sampai tahun 2050 penyediaan energi yang berasal dari nuklir, angin, matahari, geotermal, dan lainnya hanya mampu memenuhi kurang dari separuh kebutuhan energi global. Bahkan pada tahun 2100 kesenjangan pemenuhan kebutuhan energi tersebut akan semakin besar. Hal ini terjadi karena masih diperlukannya berbagai penelitian dasar mengenai teknologi pendayagunaan energi alternatif tersebut secara optimal. Oleh karena itu, perlu ada pendekatan yang berbeda, kita tidak hanya semata-mata mencari energi alternatif non fosil demi pengurangan emisi karbon, akan tetapi melakukan optimalisasi kombinasi berbagai sumber daya lokal yang ada dalam koridor emisi karbon yang minimal. Salah satu cara adalah dengan melakukan upaya hemat energi secara komprehensif dalam satu komunitas lokal/setempat, karena tidak mungkin kita melakukannya sekaligus untuk komunitas besar misalnya secara nasional, terlalu banyak faktor yang berpengaruh. Upaya ini dimulai pada tingkat kota yang dibagi dalam sejumlah pusat hemat energi terpadu dengan menerapkan prinsip eco-technology.

PENUTUP

Peran Indonesia ke Depan
            Indonesia dengan kekayaan alamnya yang beragam dan dengan posisi strategis di belahan bumi ini mempunyai potensi untuk mengembangkan eco-technology (melalui pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan regional) yang pada akhirnya mampu menyejahterakan masyarakatnya melalui swasembada energi dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya.
            Salah satu bentuk nyata penerapan eco-technology adalah pemanfaatan limbah padat perkebunan dan pertanian yang berbentuk serat (fiber) sebagai penguat material komposit untuk keperluan industri manufaktur. Dengan pemanfaatan ini maka limbah padat dapat diminimalkan sekaligus meminimalkan pencemaran udara akibat polusi dan emisi GHG. Hasil penelitian oleh penulis (publikasi Juli 2009) menunjukkan bahwa serat kelapa sawit yang berdiameter rata-rata 0,44 mm mempunyai kekuatan tarik rata-rata sebesar 253 MPa dan modulus elastisitas rata-rata sebesar 16 GPa. Kemampuan serat kelapa sawit ini sebanding dengan sejumlah serat alami lainnya, dan lebih rendah jika dibandingkan dengan serat sintetis.  

DAFTAR PUSTAKA

S.Soemantri B, “Eco-technology: Indonesia’s perspectives”, Keynote speech, Asian Symposium   on Eco-technology, October 18--19, 2008, Kanazawa, Japan.
Global Warming, TIME, 2007.
Articles in Japan Times in 2008 and 2009.
Articles in South China Morning Post in 2009.

Proses Pembuatan Boeing 787 Dreamliner Yang Mewah Dan Ramah Lingkungan

Boeing 787, atau Dreamliner, adalah pesawat penumpang ukuran sedang yang dibangun di Boeing Commercial Airplanes Pesawat memiliki kapasitas penumpang 200 - 350 penumpangdan lebih efisiean dalam proses penggunaan bahan bakar dibandingkan dengan model-model sebelumnya. Dan juga dia akan menjadi pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit pada hampir sebagian besar konstruksinya. Pesawat ini sebenarnya pertama kali diperkenalkan pada 2007 dan dijadwalkan terbang pertama pada Agustus tahun yang sama. Namun, karena masalah teknis, peluncuran ditunda. Namun, pada 15 Desember 2009, ujicoba pertama penerbangan atas produk terbaru 787 Dreamliner berjalan sukses di Everett, negara bagian Washington. Ujicoba itu merupakan terobosan Boeing setelah bertahun-tahun tertunda.
Quote:
Spesifikasi Dan Komposisi Dari Dreamliner Yang Ramah Lingkungan
Pesawat ini menggunakan mesin rolls-royce tren 1000 dan mesin GE NX 2B 12 yang sangat inovatif. Pesawat ini juga mempunyai radar honneywell versi terbaru yang dirancang untuk memantau cuaca di depan pesawat dengan jarak 1000 meter/1 km.
Code:
  Boeing 787 Dreamliner
Tipe  Wide-body jet airliner
Produsen Boeing Commercial Airplanes
Terbang perdana 15 Desember 2009
Jumlah produksi 2
Harga satuan 787-3: US$150.0–155.5 million
  787-8: US$161.0–171.5 million
  787-9: US$194.0–205.5 million
Spoiler for Spesifikasi:

Pesawat boeing 787 dream liner mempunyai 3 jenis,yaitu: Boeing 787-3 Boeing ini merupakan model yang didesain menandingi airbus a330.pesawat ini berciri lebih pendek.pesawawt ini juga adalah versi lanjutan dari versi boeing 757. Boeing 787-8 Boeing ini merupakan versi kedua 787 yang diproduksi boeing.pesawat ini juga dimaksudkan untuk menyaingi airbus a 340-500.pesawat ini memuat 50 penumpang lebih banyak dari pesawat 787-3. Boeing 787-9 Pesawat ini adalah versi terjauh yang diproduksi oleh boeing.pesawat ini mampu menjelajah 2 X lebih jauh dari boeing 777. Pesawat ini dimaksudkan untuk menyaingi Airbus A350 XWB.
Spoiler for Jenis Dreamliner:

black outline) with the Boeing 777-300 (pink), 767-300 (cyan), and 737-800 (Hijau).

Pesawat dirancang supaya sangat ramah lingkungan. Menurut Boeing, material pesawat ini terbuat dari karbon fiber yang ramah lingkungan. Pesawat ini juga irit bahan bakar, mampu menempuh jarak dua kali jarak tempuh Boeing 777. Lampu yang digunakan oleh pesawat ini juga sangat ramah lingkungan. Bahan baku yang baru, hampir separuhnya badan pesawat ini terbuat dari bahan komposit khusus yaitu semacam campuran serat karbon yang dipercaya lebih ringan dan kuat dibanding dengan bahan dasar pesawat konvensional yaitu alumunium. dengan demikian bobot pesawat bisa direduksi dan struktur pesawat lebih kuat.
Quote:
Proses Pembuatan Dreamliner
Quote:
Konsep Dreamliner
Quote:
Desain dari 787 juga terbilang baru dan unik, dengan sayap sweptback yang berujung agak “lentik” dan fleksibel, penampilan 787 terlihat berbeda dari pesawat sipil lainnya, Boeing mengatakan desain pesawat ini memang benar2 baru, terutama di bagian sayap dan fuselage (badan pesawat), bagian sayap dibuat lebih panjang dari pesawat sekelas, ini memberikan daya angkat yang lebih kuat, selain itu bagian sayap ini dibuat satu kesatuan untuk mengurangi biaya perawatan karena kompleksitas suatu komponen. bagian badan sendiri dibuat lebih lebar dan agak kotak pada bagian bawahnya, keuntungannya kapasitas kargo menjadi lebih besar 40 % dari pesawat sekelas. dengan segala keunggulannya tidak salah Boeing berbangga dengan produk barunya ini, ditengah hiruk pikuk dunia yang terlena akan kemegahan pesawat superjumbo Airbus A380.
Spoiler for Dreamliner:

Layout Dreamliner

Spoiler for Dreamliner:

Kompisisi konstruksi Badan Pesawat Yang sebagian besar berasal dari bahan yang ramah lingkungan

Spoiler for Dreamliner:

streamline flow yang mengurangi gesekan pada saat terbang

Spoiler for Dreamliner:

ini mesin dengan produksi dari Rolls Roys

Spoiler for Dreamliner:

Mesin Pesawat produksi General Electric

Spoiler for Dreamliner:

Spesifikasi Mesin Pesawat secara umum, dimana mesin baru yang diklaim lebih ramah lingkungan, tidak bising dan hemat bahan bakar.

Spoiler for Dreamliner:

Desain Aerodinamika pesawat

Spoiler for Dreamliner:

sistem avionik yang baru dan canggih dilengkapi dengan kokpit yang futuristik dengan layar multifungsi digital.

Quote:
Pembuatan Dreamliner
Dibangun oleh tim internasional di pabrik Boeing Everett di Washington, Amerika Serikat, Dreamliner diklaim sebagai pesawat super hemat dengan tingkat efisiensi yang tinggi dalam beroperasi, hemat 20 persen bahan bakar dengan pesawat sejenis dan sama besar. Pesawat ini juga memberikan tingkat kenyamanan baru bagi penumpang, seperti jendela lebih besar, lampu LED berwarna mirip sinar matahari alami, serta sistem pemurnian udara dengan cara memompa udara bersih ke dalam kabin.
Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:

Spoiler for Dreamliner:
 
Copyright © Chemical Engineer. Design by Best Website Design
Buy Traffic and Templates On Sales